Memahami Teknologi dan Media Pembelajaran

  • 01:26 WITA
  • Administrator
  • Artikel

A.    Pengertian Teknologi  Pembelajaran

Teknologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Technologia menurut Webster Dictionary berati systematic treatment atau penanganan sessuatu secara sistematis, sedangkan techne sebagai dasar kata Teknologi berarti skill, science atau keahlian, keterampilan, dan ilmu.[1]

Kata teknologi secara harfiah berasal dari bahasa Latin texere yang berarti menyusun atau membangun, sehingga isilah teknologi seharusnya tidak terbatas pada penggunaan mesin, meskipun dalam arti sempit hal tersebut sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.[2]

Teknologi berasal dari kata Greek “technologia”, yaitu techne yang berarti seni, keahlian atau kerajinan, atau keterampilan. Sedangkan logia berarti kata, studi, tubuh ilmu pengetahuan. Teknologi  adalah sebuah pengetahuan tentang membuat sesuatu.[3] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.[4]

Menurut Roger (1983) teknologi adalah suatu rancangan atau desain untuk alat bantu tindakan yang mengurangi ketidakpastian dalam hubungan sebab akibat dalam mencapai suatu hasil yang diinginkan. Teknologi biasanya memiliki dua aspek, yaitu aspek harware dan software.[5]

Sementara itu, Jacques Ellul  (1967) mendefinisikan teknologi sebagai keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia. Menurut Gary J. Anglin (1991) Teknologi merupakan penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan menyistem untuk memcahkan masalah. Sedangkan menurut vaza (2001) teknologi adalah sebuah proses yang dilaksanakan dalam upaya mewujudkan sesuatu secara rasional. Teknologi merupakan ilmu pengetahuan yang ditransformasikan ke dalam produk, proses, jasa, dan struktur organisasi.[6]

Jadi teknologi adalah sarana, alat maupun cara yang digunakan dalam menyampaikan pesan dan memecahkan suatu masalah melalui pengetahuan untuk suatu mencapai tujuan tertentu dan menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri.

Pendidikan adalah proses interaksi yang bertujuan. Interaksi terjadi antara guru dengan siswa, yang bertujuan meningkatkan perkembangan mental sehingga menajadi mandiri dan utuh. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan suatu tindakan yang memungkinkan terjadinya belajar dan perkembangan. Pendidikan merupakan proses interaksi yang mendorong terjadinya belajar.[7]

Teknologi pendidikan adalah pengembangan, penerapan dan penilaian sistem-sistem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar manusia. Di sini diutamakan proses belajar itu sendiri di samping alat-alat yang dapat membantu proses belajar itu. Jadi teknologi pendidikan itu mengenai software dan harware-nya. Software antara lain menganalisis dan mendesain urutan atau langkah-langkah belajar berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan metode penyajian yang serasi serta penilaian keberhasilannya.[8]

Ada pula yang berpendapat bahwa teknologi pendidikan adalah pemikiran yang sistematis tentang pendidikan, penerapan metode problem solving dalam pendidikan, yang dapat dilakukan dengan alat-alat komunikasi modern, akan tetapi juga tanpa alat-alat itu.[9]

Pada hakikatnya teknologi pendidikan adalah suatu pendekatan yang sistematis dan kritis tentang pendidikan. Teknologi pendidikan memandang soal mengajar dan belajar sebagai masalah atau problema yang harus dihadapi secara rasional dan ilmiah.[10]

Teknologi pengajaran merupakan pemanfaatan dan pengetahuan spesifik dari perkakas dan keterampilan dalam pendidikan. Teknologi pengajaran biasanya dipandang dari prespektif guru. Ketika guru menggunakan komputer, peranti kera pendidikan jarak jauh, atau internet untuk pengajaran, perkakas-perkakas tersebut dianggap sebagai teknologi pengajaran.[11]

Saettler (20040 dalam bukunya “The Evolution of American Educational Technology” menggambarkan evolusi teknologi pembelajaran dan mengelompokkan era media pembelajaran yakni ketika bangkitnya penelitian mengenai media yang berkembang antara tahun 1918-1950. Sejak tahun 1950 hinga sampai saat ini istilah yang digunakan adalah teknologi pendidikan (pembelajaran).[12]

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.[13]

Salah satu pengertian pembelajararan dikemukakan oleh Gagne (1977) yaitu pembelajaran adalah seperangkat peristiwa-peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung beberapa proses belajar yang bersifat internal. Lebih lanjut, Gagne (1985) mengemukakan teorinya lebih lengkap dengan mengatakan bahwa pembelajaran dimaksudkan untuk menghasilkan belajar, situasi eksternal harus dirancang sedemikian rupa untuk mengaktifkan, mendukung, dan mempertahankan proses internal yang terdapat dalam setiap peristiwa belajar.[14]

Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Menurut konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.[15]

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.[16]

Menrut Piaget, pembelajaran terdiri sari empat langkah berikut.

1)      Langkah satu. Menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri.

2)      Langkah dua. Memilih atau mengembangkan aktivitaskelas dengan topik tersebut.

3)      Langkah tiga. Mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah.

4)      Langkah empat. Menilai pelaksanaan tiap kegiatan.[17]

Teknologi pembelajaran ialah teori dan praktek dalam desain pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta evaluasi proses dan sumber untuk belajar. Istilah teknologi berasal dari kata textere (bahasa latin) yang artinya “to weave orconstruct”, menenun atau membangun. Teknologi tidak selamanya harus menggunakan mesin sebagaimana terbayangkan dalam pikiran selama ini, akan tetapi merujuk pada setiap kegaiatan praktis yang menggunakan ilmu atau pengetahuan tertentu. Bahkan disebutkan bahwa teknologi itu merupakan usaha untuk memecahkan  masalah manusia.[18]

Berdasarkan definisi teknologi pembelajaran di atas, maka dapat dikatakan bahwa:

v  Teknologi pembelajaran pada perkembangan awalnya sama dengan media pembelajaran yang lahir dari revolusi komunikasi.

v  Dalam perkembangan selanjutnya teknologi pembelajaran merupakan suatu disiplin ilmu tersendiri yan bukan hanya terbatas pada media dalam bentuk peralatan fisik semata, melainkan merupakan kajian dan praktik etis dalam mendesain, mengembangkan, menggunakan, mengelola, dan mengevaluasi proses dan sumber teknologi yang sesuai untuk memfasilitasi belajar dan memperbaiki kinerja tenaga pendidik, peserta ddik, dan organisasi kependidikan.

v  Media pembelajaran dipandang sebagai segala bentuk peralatan fisik komunikasi berupa hardware dan software merupakan bagian kecil dari teknologi pembelajaran yang harus diciptakan (didesain dan dikembangkan) digunakan, dan dikelola (dievaluasi) untuk kebutuhan pembelajaran dengan maksud untuk mencapai efektivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran.

v  Oleh karena itu, media pembelajaran sebagai peralatan fisik tidak sama dengan teknologi pembelajaran sebagai suatu disiplin ilmu.[19]

Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah bahwa teknologi pendidikan, teknologi pengajaran, dan teknologi pembelajaran memiliki pengertian yang sama yaitu pengembangan serta penerapan ilmu pengetahuan, dapat berupa alat, teknik, ataupun metode yang menjadi sarana untuk mempermudah penyampaian pesan atau informasi dari sumber (pendidik) ke penerima informasi atau pesan (peserta didik) agar tercapainya tujuan pembelajaran atau pendidikan.


 

B.     Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa Latin, yaitu medius. Arti kata medius adalah tengah, perantara, atau pengantar. Media sering kali diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau alat elektronik yang berfungsi untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal dalam proes pembelajaran. Media merupakan segala bentuk alat yang dipergunakan dalam proses penyaluran atau penyampaian informasi.[20]

Media, bentuk jamak dari perantara (medium), merupakan sarana komunikasi. Berasal dari bahasa Latin  medium (antara), istilah ini merujuk pada apa saja yang membawa informasi antara sebuah penerima. Enam kategori dasar media adalah teks, audio, visual, video, perekayasa (manipulative) (benda-benda), dan orang-orang.[21]

Menurut Heinich, dkk. (1993) media merupakan alat saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara, yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Heinich mencotohkan media ini, seperti film, telivisi, diagram, bahan tercetak (printed materials), komputer, dan instruktur. Contoh media tersebut bisa dipertimbangkan sebagai, media pembelajaran jika membawa pesan-pesan (message) dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Heinich juga mengaitkan hubungan antara media dengan pesan dan metode (methods) dalam proses pembelajaran.[22]

Media adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Media juga dapat diartikan sebagai alat bantu yang dapat mencapai tujuan pembelajaran.[23]

Media pembelajaran meliputi alat yang secara spesifik digunakan untuk menyampaikan  isi materi pembelajaran. Media pembelajaran merupakan komponen sumber belajar yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang memotivasi siswa untuk belajar. Sumber belajar terdiri dari atas sumber-sumber yang mendukung proses pembelajaran siswa termasuk sistem penunjang, materi, dan lingkungan pembelajaran. Sumber belajar mencakup segala yang tersedia untuk membantu individu belajar dan menunjukkan kemampuan dan kompetensinya.[24]

Berdasarkan klarifikasinya, setiap media pembelajaran memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Karakteristik tersebut dapat dilihat melalui tampilan media yang disajikan. Dalam memilih suatu media pembelajaran yang akan digunakan, guru dapat menggunakan suatu media pembelajaran menyesuaikan dengan situasi pembelajaran.[25]

Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dengan alasan sebagai berikut:[26]

1.      Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar mereka.

2.      Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih diahami oleh siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih baik.

3.      Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.

4.      Siswa banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain, seperti mengamati, melakukan, dan mendemonstrasikan.

Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang timbulnya proses atau dialog mental pada diri peserta didik. dengan perkataan lain, terjadi komunikasi antara peserta didik dengan media atau secara tidak langsung tentunya antara peserta didik dengan penyalur pesan (guru). Demikian dapat dikatakan bahwa pesan pembelajaran telah terjadi. Media tersebut berhasil menyalurkan pesan/bahan ajar apabila kemudian terjadi perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri si belajar (peserta didik).[27]

Media pembelajaran selalu terdiri atas dua unsur penting, yaitu unsur peralatan atau perangkat keras (hardware) dan unsur pesan yang dibawanya (message/software). Oleh karena itu, perlu sekali diperhatikan bahwa media pembelajaran memerlukan peralatan untuk menyajikan pesan, namun yang terpenting bukanlah peralatan itu, tetapi pesan atau informasi belajar yang dibawakan oleh media tersebut.[28]

Perangkat lunak (software) adalah informasi atau bahan ajar itu sendiri yang akan disampaikan kepada peserta didik, sedangkan perangkat keras (hardware) adalah sarana atau peralatan yang digunakan untuk menyajikan pesan/bahan ajar tersebut.[29]

Media pembelajaran mencakup semua peralatan fisik dan materi yang digunakan oleh instruktur, dosen, guru, tutor, atau pendidk lainnya dalam melaksanakan pembelajaran dan memfasilitasi tercapainya tujuan pembelajaran. Media pembelajaran yang dimaksud mencakup media tradisional yang terdiri atas kapur tulis handout, diagram, slide, overhead, objek nyata, dan rekaman video, atau film dan media muktahir sperti computer, DVD, CD-ROM, internet, dan konferensi video interaktif. Gagne dan Brigges juga mengatakan bahwa sebenarnya penyebutan media yang digunakan dalam media pembelajaran itu memiliki makna yang standar. Kadang-kadang media merujuk pada istilah-istilah sebagai berikut: [30]

v  Sensory mode: alat indera yang didorong oleh pesan-pesan pembelajaran (mata, telinga, dan sebagainya).

v  Channel of communitcation: alat indera yang digunakan dalam suatu komunikasi (visual, auditori, alat peraba, kinestik, alat penciuman, dan sebagainya).

v  Type of Stimulus: peralatan tapi bukan mekanisme komunikasi, yaitu kata-kata lisan (suara asli atau rekaman), penyajian kata (yang ditulis dalam nuku atau yang  masih tertulis di papan tulis), gambar bergerak (video atau film).

v  Media: peralatan fisik komunikasi (buku, bahan cetak seperti modul, naskah yang diprogramkan, komputer, slide, film, video, dan sebagainya).

Kesimpulan dari definisi tersebut ialah, bahwa semua peralatan termasuk barang bekas yang dirancang untuk kebutuhan pembelajaran dinamakan media pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa media pembelajaran adalah semua perangkat lunak (software) dan atau perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai peralatan yang digunakan untuk menyalurkan pesan-pesan pembelajaran dari pengirim pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat peserta didik sehingga terjadi efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.[31]

Jadi media pembelajaran merupakan segala bentuk sarana, alat, materi, perangkat lunak maupun keras, serta fisik orang yang dapat menyalurkan informasi dan pesan dari sumber kepada penerima informasi dan pesan agar tercapainya tujuan tertentu dalam proses pembelajaran.

C.    Pengembangan Teknologi dan Media Pembelajaran

Salah satu model yang banyak dirujuk untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi pembelajaran adalah model ASSURE atau model yang dikembangkan oleh Smaldino, Russel, Heinich, dan Molenda. ASSURE merupakan akronim dari:[32]

A         = Analize learn